Dalam dunia supercar yang sering kali didominasi oleh nama-nama besar, terdapat beberapa model tersembunyi dari lima tahun terakhir yang sebenarnya mampu menyaingi bahkan mengalahkan pesaingnya yang lebih mencolok. Artikel ini mengungkap enam supercar yang kurang mendapat perhatian namun memiliki performa, desain, dan teknologi yang luar biasa.
Menjadi seorang pencinta otomotif berusia 38 tahun, saya percaya bahwa kebanyakan penggemar sering terjebak pada merek besar semata, padahal ada permata tersembunyi di pasar yang layak diperhatikan. Seperti pepatah lama berkata, jangan menilai buku dari sampulnya—hal yang sama berlaku pada supercar yang tampak “biasa” tapi menyimpan kekuatan luar biasa di bawah kap mesinnya.
McLaren Senna memang mendapatkan perhatian, tapi tak sebesar supercar McLaren yang lain seperti P1 atau 720S. Namun, dari segi performa, Senna dirancang khusus untuk kecepatan sirkuit dan handling yang superior. Dengan tenaga 789 hp dari mesin V8 twin-turbo 4.0 liter, supercar ini dapat melaju dari 0-100 km/jam hanya dalam 2,8 detik (Car and Driver, 2018).
Lebih dari itu, Senna ditahbiskan sebagai salah satu supercar paling ringan, dengan bobot kurang dari 1.200 kg berkat penggunaan karbon fiber yang intensif. Misalnya, daya tekan aerodinamisnya mencapai 800 kg pada kecepatan 250 km/jam, memberikan cengkeraman maksimal saat menikung.
Siapa sangka Lexus, merek yang identik dengan keandalan dan kemewahan konservatif, melahirkan sebuah supercar sekelas LFA? Diluncurkan sejak 2010 dan produksinya berakhir resmi di tahun 2012, LFA tetap relevan dalam lima tahun terakhir bagi kolektor dan penggemar performa tinggi. Mesin V10 4.8 liter menghasilkan suara mesin yang sangat khas dan menjadi salah satu yang terbaik di kelasnya.
Fakta menarik: hanya 500 unit LFA yang pernah dibuat, menjadikannya jarang terlihat di jalan dan semakin menarik perhatian bagi mereka yang mengerti nilai eksklusivitas. Dengan kemampuan akselerasi 0-100 km/jam dalam 3,7 detik, LFA memang bukan yang tercepat namun tetap punya pesona tersendiri.
Dalam dunia supercar, nama Pagani sudah identik dengan craftsmanship dan estetika ekstrem. Huayra, yang diluncurkan pada tahun 2012 dan terus diperbarui hingga kini, hampir selalu menjadi pilihan bagi mereka yang mengutamakan detail artistik—bahkan sebelum performa. Mesin V12 twin-turbo AMG dengan output 720 hp membuat Huayra bisa berakselerasi dari 0-100 km/jam dalam sekitar 3 detik.
Namun, aspek yang sering diabaikan adalah fitur aerodinamika aktifnya yang unik, seperti sayap belakang yang dapat menyesuaikan sendiri berdasarkan kecepatan dan tekanan udara, memberikan stabilitas tinggi di kecepatan ekstrem. Dalam ulasan Motor Trend (2019), Huayra dianggap sebagai "fantasi mengemudi yang bisa kamu miliki di dunia nyata".
Salah satu kolektor supercar asal Malaysia, Encik Amir, bercerita bagaimana ia lebih memilih Huayra sebagai koleksi pribadinya dibanding Ferrari F8 Tributo yang lebih populer. Alasannya? “Huayra menawarkan perpaduan sempurna antara seni dan teknologi yang tidak bisa ditemukan pada mobil lain,” ujar beliau dalam wawancara eksklusif 2023.
"Saya merasa memiliki sesuatu yang unik dan lebih pribadi dibandingkan dengan Ferrari, yang menurut saya lebih banyak diproduksi dan terlalu umum," tambahnya.
Jangan remehkan kekuatan mobil yang bentuknya compact dan simpel. Alpine A110 S adalah supercar dari Prancis yang cukup underrated, tapi sangat memikat. Dengan mesin 1.8 liter turbocharged yang menghasilkan sekitar 292 hp, A110 S bisa melaju dengan akselerasi cepat yang sangat responsif dan handling luar biasa ringan.
Menurut data resmi Alpine, bobot total hanya sekitar 1.114 kg, membuat mobil ini memiliki rasio tenaga terhadap berat yang sangat kompetitif di kelasnya. Bahkan, Alpine A110 S telah mendapatkan feedback positif dari pengemudi profesional bahwa mobil ini lebih lincah dibanding rival sekelasnya seperti Porsche Cayman.
Kalau berbicara soal kecepatan puncak, Hennessey Venom F5 adalah “penantang” nyata yang jarang mendapat sorotan media luas selain penggemar hypercar sejati. Dengan target kecepatan lebih dari 500 km/jam, ini adalah supercar yang dikembangkan dengan tujuan mengalahkan Bugatti Chiron pada arena speed run.
Venom F5 dibekali mesin V8 twin-turbo 6.6 liter yang mampu menghasilkan tenaga hingga 1.817 hp—angka yang hampir mustahil untuk dilampaui tanpa teknologi ekstrem. Hennessey Performance Engineering hanya memproduksi sebanyak 24 unit saja, menambah aura eksklusif mobil ini di antara kolektor global.
Untuk anak muda yang berusia antara 16 sampai 40 tahun dan sedang mencari inspirasi dalam dunia otomotif, mengetahui supercar seperti Venom F5 dapat membuka mata bahwa ada pilihan lain selain Lamborghini dan Ferrari yang sudah terlalu mainstream. Sebuah case study oleh TopGear pada 2021 melaporkan bahwa pembeli hypercar kini mulai mencari model yang lebih unik dan jarang ditemui di jalanan.
Saat Anda berinvestasi dalam supercar, tidak hanya performa yang penting. Eksklusivitas, estetika personal, dan “cerita” di balik pembuatan mobil sangat menentukan gairah dan kebanggaan pemilik. Mobil-mobil yang tersembunyi ini, walaupun minim iklan dan sorotan media, hadir dengan kualitas dan teknologi yang tidak kalah hebat.
Jumlah produksi yang terbatas, perpaduan engineering canggih, dan pengalaman berkendara yang unik adalah kunci mengapa mobil-mobil ini bisa mengalahkan supercar lebih populer di banyak aspek. Mereka juga sering memiliki nilai yang lebih stabil atau bahkan meningkat seiring waktu, menjadikannya pilihan yang cerdas bagi kolektor dan penggemar otomotif yang mencari sesuatu di luar kebiasaan.
Intinya, jangan terkecoh oleh nama besar semata. Selidiki lebih dalam, dan Anda mungkin menemukan satu atau dua supercar yang tidak nampak sebagai bintang utama dalam dunia otomotif komersial, namun justru menjadi raja dalam hal performa dan eksklusivitas.